Menyalakan Mimpi yang Mulai Padam (Resensi Buku “Perantau Anti Galau”)

SUMBER Saya tidak tahu apakah kuliah di Jatinangor selama lima tahun bisa dibilang sebagai merantau. Oh iya, saya lahir dan besar di Jakarta. Selama lima tahun di Jatinangor, Sumedang, saya juga bisa sebulan dua kali pulang ke Jakarta. Sementara, menurut pengalaman saya, merantau itu sepertinya berada di sebuah tempat dalam waktu lebih dari setahun dan

Pohon-pohon yang Sendu

Oh, malam. Kau yang menjadi kawan. Saat temaram kota dan bisik-bisik hantu menjadi nyanyian perjalanan. Kereta cepat kenangan terbang cepat menuju stasiun kelam. Kunang-kunang di tiang. Kunang-kunang enggan pulang. Pohon-pohon saling merindu. Mereka berpelukan, lalu bercengkerama. “Ingatkah saat kau berbincang dengan bayangmu sendiri, malam itu di tanah persinggahan para dewa?” “Meski para begundal mengeluarkan api

Populasi

Saya termasuk orang yang percaya sumber utama masalah di dunia ini adalah populasi penduduk yang tidak terkontrol. Tapi yang saya pikirkan adalah bagaimana cara mengontrol populasi orang bodoh dengan cara tidak melanggar HAM ya? Kalau didiamkan, mereka berkembang biak terus dan makin banyak manusia jenis begini. Fiuuuhh…

Aku Tidak Tahu

Aku tidak tahu apakah aku tahu Aku tidak tahu apakah aku tidak tahu Aku tidak tahu apakah aku sedang mengikuti jalan-Mu yang berhampar onak Aku tidak tahu apakah aku sudah melayani-Mu atau aku sedang menghina-Mu dengan lakuku Aku tidak tahu kapankah tetirah Aku lelah dengan ketidaktahuanku!

Aku Tidak Tahu

Aku tidak tahu apakah aku tahu Aku tidak tahu apakah aku tidak tahu Aku tidak tahu apakah aku sedang mengikuti jalan-Mu yang berhampar onak Aku tidak tahu apakah aku sudah melayani-Mu atau aku sedang menghina-Mu dengan lakuku Aku tidak tahu kapankah tetirah Aku lelah dengan ketidaktahuanku!

Kok Mesti Banget di Depan Umum

Tadi saya mampir ke daerah Karet, Jakarta, untuk ngasih kamera Go Pro punya adik ipar. Selesai kasih itu kamera, perut saya berontak minta diisi karena belum dibuat tenang dengan makan malam. Waktu menunjukkan sudah hampir setengah sebelas malam. Nah, enggak jauh dari Grand Futsal, saya beli ketoprak. Saat saya makan, datanglah sepasang kekasih. Dari tampangnya

Resensi Film “Coco”: Kenangan yang Menghidupkan Keluarga

Miguel, Dante, Hector Miguel Rivera seorang bocah 12 tahun yang dibesarkan di sebuah keluarga pengrajin sepatu di Santa Cecilia, Meksiko. Sehari-hari Miguel mencari nafkah dengan menyemir sepatu. Namun, dia yakin dirinya adalah seorang musisi. Sementara, di keluarganya, musik dianggap sebagai kutukan. Keluarganya begitu membenci musik karena sang kakek moyang (bapak dari kakek/nenek buyut) pergi meninggalkan